Bahasa IndonesiaEnglish

Asbindo Youtube Asbindo Flickr Asbindo Yahoo Groups Asbindo Facebook

Tanya Jawab Penggunaan Pestisida
PDF

  • Apa sajakah hama tanaman hias yang paling sering ditemui di Indonesia?

    TRIPS

    ThripsSiklus ThripsHama thrips tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman. Panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga . Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan bunga dan berwarna keperakan akibat adanya luka dari cara makan hama thrips dengan menghisap cairan pada tanaman. Thrips juga bisa membawa bibit penyakit (berupa virus).

    Pengendalian dapat dilakukan secara kultur teknis maupun kimiawi.  Selain itu dapat menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25 WP konsentrasi 0,25 - 0,5 gr /liter atau insektisida cair Winder 100EC konsenstrasi 0.5 - 1 cc/L.

    KUTU (Myzuspersicae) – APHIDS

    AphidsSiklus AphidSerangga berukuran 4-8 mm ini merupakan hama yang dapat merusak tanaman hias. Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan belang-belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan

    Pada serangan yang banyak akan menyebabkan pertumbuhan tanaman mengerdil. “Embun madu” yang berasal dari kotorannya dapat menjadi media tumbuhnya jamur jelaga yang dapat menutupi daun dalam proses fotosintesa.  Di dalam greenhouse, hama muda yang baru lahir akan cepat menjadi dewasa karena cara makannya yang banyak dan dapat segera bertelur tanpa adanya pembuahan terlebih dahulu. Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida Winder 100EC konsentrasi 0,5 - 1,00 cc/L.

    TUNGAU

    TungauSiklus tungauTungau bersifat parasit yang merusak daun, batang maupun buah sehingga dapat mengakibatkan perubahan warna dan bentuk.  Tungau menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagian bawah menjadi berwarna kuning kemerahan, daun akan menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0,5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus.

    Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan Penyemprotan menggunakan Akarisida Samite 135 EC. Konsentrasi yang dianjurkan 0,25 -0,5 ml/L.

    ULAT

    Siklus Hidup UlatUlatLarva kupu-kupu dan ngengat dari ordo lepidoptera dikenal sebagai pemakan tanaman serhingga menjadi salah satu hama tanaman yang sangat merugikan. Ulat yang merupakan stadium larva, termasuk hewan yang sangat rakus. Hanya dalam waktu yang tidak lama, daun-daun bisa rusak. Setelah dewasa, ulat berubah menjadi sejenis ngengat akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan metamorfosisnya.

    Siklus hidup kupu2 / ngengat terdiri dari 4 stadium : Telur, ulat, pupa dan kuku-kupu. Stadium ulat sangat merugikan karena hama ini sangat rakus makan. Pada saat menjadi pupa beberapa jenis berada di dalam tanah.  Pengendalian dapat dilakukan terhadap ngengat dewasa yang hendak meletakkan telurnya pada tanaman inang dengan menyemprotkan insektisida, atau dengan insektisida biologis Turex WP konsentrasi 1 - 2 gr/Lt

    LEAF MINER

    Leaf MinerSiklus Leaf MinerHama seperti lalat ini merusak tanaman dengan menggorok daun muda. Pada awalnya lalat betina memasukan ovipositor (alat untukmemasukan telur) ke dalam daun. Terlihat seperti bintik-bintik putih. Telur yang menetas menjadi larva kemudianmenggorok jaringan daun sehingga terlihat seperti garis-garis belang pada daun tanaman.  Pada serangan yang hebat menyebabkan daun menjadi belang-belang,selain mengurangi fotosintese juga sangat merugikan karena mengurangi keindahan dari tanaman hias.

    Leaf miner berkembang biak dengan bertelur, 2-8 hari telur menetas menjadi larva. Larva ini di dalam daun berkembang selama 4-6 hari untuk kemudian menjadi pupa. Setelah 8-11 berisirahat dalamstadia pupa, hewan ini akan leluar sebgai imago leaf miner. Pada umur 5-8 hari setelah menjadi imago, leaf miner ini sudah siap untuk meletakan telurnya kembali di daun.

  • Apa sajakah penyakit tanaman hias yang paling sering ditemui di Indonesia?

    KARAT PUTIH

    Karat PutihPenyakit karat ditandai oleh gejala karat (rust) berwarna putih kotor pada permukaan daun bagian bawah. Bila serangannya berat, daun menjadi menggulung, mengerut, dan me- ngering. Bila serangan terjadi pada saat bunga belum mekar, bunga akan gagal mekar atau mekar terlambat dan ukurannya menjadi kecil. Penyakit karat cepat berkembang pada kondisi udara yang lembap dan dingin.

    Penyebarannya pada tanaman, dari satu daun ke daun lain atau dari satu tanaman ke tanaman lain, dilakukan oleh angin, air, getaran selama pemeliharaan. Mencegah serangan atau penyebaran penyakit karat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: menggunakan benih sehat dari penangkar yang terpercaya, Mengenali gejala penyakit karat untuk deteksi dini. melakukan disinfeksi sepatu kebun pekerja dengan cara membuat kolam yang diisi desinfektan seperti Virkon S 1% (1:100) atau chemprocide (DDAC) konsentrasi 15 ml/l.



    RHIZOCTONIA

    RhizoctoniaPenyakit ini disebabkan oleh patogen karena penggunaan sekam basah. Tanda-tanda penyakit ini adalah adanya benang-benang putih diantara media (sekam) dan tanaman. Gejala awal infeksi penyakit ini adalah layu pada siang hari dan segar pada malam hari. Pada daerah yang terkena infeksi terdapat tanda warna merah kecokelatan.

    Penyebaran penyakit ini melalui air irigasi, bahan tanaman maupun benih terinfeksi

    (Abawi, 1994). Jamur-jamur tersebut sulit dikendalikan karena mampu bertahan sebagai saprofit di dalam tanah ataupun pada sisa tanaman dalam bentuk sklerosia pada saat tidak ada inang (Yulianti, 1996) dan kerapatan populasi mereka di lapang tergantung ada tidaknya tanaman inang yang rentan.


    BOTRYTIS

    BotrytisPenyakit ini disebabkan oleh jamur Botrytis sp. Penyakit ini mudah terjadi pada kondisi lingkungan yang lembap dan panas. Paling sering menyerang bunga. Gejala utama yang terlihat adalah bunga atau daun terdapat bercak-bercak hitam yang berakibat pada pembusukan.  Penyemprotan fungisida sistemik seperti Folicur 25 WP dosis 2 gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter cukup membantu untuk mengatasi penyakit ini. Jika tanaman telah terserang penyakit hal yang terpenting adalah memisahkan dan menghilangkan bunga dan daun yang terinfeksi, atau tanaman keseluruhan jika diperlukan. Hindari pemusnahan tanaman saat kondisi basah/lembap karena lebih mudah menyebarkan spora.


    PHYTIUM (Busuk Akar)

    PhytiumPenyakit ini juga disebabkan oleh jamur yang mengakibatkan busuk akar. Busuk akar terjadi karena media tanam terlalu basah dan berkelembaban tinggi. Air yang terlalu lama menggenang menyebabkan media menjadi becek dan dalam waktu singkat menyebabkan akar menjadi busuk, daun menjadi pucat, layu lalu busuk.

    Pencegahan yang paling penting adalah dengan menggunakan media tanam yang porous, steril dan menjaga agar media tidak terlalu lembab dan basah berlebihan. Namun apabila serangan sudah terjadi, maka segera bongkar media, buang akar yang terserang, lalu oleskan/spray fungisida seperti Dythane atau Antracol. Lalu tanam kembali kedalam media baru yang porous dan steril.

    Pencegahan dan penanganan tanaman yang terserang busuk akar bisa pula dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik seperti Previcur N dengan dosis 2 ml/Liter.


    NEMATODA (Bengkak Akar)

    NematodaPenyakit ini disebabkan oleh Meloidogyne spp. Sering ditemukan pada krisan, gejala khas serangan nematoda akar adalah terbentuknya bintil-bintil akar, lalu menjadi layu dan daun menguning akibat rusaknya perakaran. Pertumbuhan pada bagian atas tanaman menjadi terhambat. Untuk mengatasi nematoda jenis ini biasa digunakan nematisida sintetik seperti methyl bromida, karbofuran, methamsodium, dan golongan organofosfat.



    POWDERY MILDEW

    Powdery Mildew (Embun Tepung)Embun tepung (powdery mildew) yang disebabkan oleh Oidium sp merupakan penyakit penting pada tanaman mawar di rumah plastik. Penyakit terbawa benih yang terinfeksi tanpa menunjukkan gejala awal yang jelas. Serangan patogen ini menyebabkan daun daun mawar tidak berfungsi sebagai organ fotosintetik karena tertutup lapisan putih seperti tepung. Pengendalian penyakitini, pada umumnya menggunakan fungisida kimia, karena sarana produksi tersebut relative mudah di dapat dan efektif. Di Indonesia, fungisida

    yang terdaftar untuk pengendalian penyakit pada tanaman mawar belum ada. Namun dalam praktek fungisida seperti daconil, Dithane M-45, dan Antracol dapat digunakan petani


    ANTRAKNOSA PADA PAKIS

    Antraknosa PakisPenyakit ini dikenal dengan nama busuk daun yang disebabkan oleh cendawan. Gejala yang tampak dari serangan penyakit ini adalah : Pada daun timbul bercak coklat berwarna kuning atau hijau muda. Pada stadia serangan lanjut dapat terlihat lingkaran-lingkaran coklat yang meluas, ditandai dengan adanya lingkarang berwarna kuning kecoklatan pada bagian luar serangan.

    Cara mengatasinya adalah dengan pengendalian penyakit ini alangkah baiknya dengan cara yang bijaksana. Bukan hanya mengandalkan fungisida (anti jamur) berbahan aktif benomyl, zineb dan atau mancozeb. Tapi juga harus mengusahakan kondisi lingkungan yang tidak menyebabkan penyebaran penyakit seperti pertanaman tidak terlalu rapat, aerasi baik dengan kondisi tersebut kelembapan dapat meningkat, tidak menyiram pada saat kelembapan tinggi contohnya saat hujan atau mendung, tidak menyiram saat media masih basah.

    Selain itu dari teknik budidaya seperti menggunakan pupuk yang NPK berimbang dan tidak berlebihan, memotong bagian tanaman yang terserang agak tidak menyebar dan lakukan karantina dengan memisahkan dengan tanaman yang sehat.

  • Dimanakah dapat ditemui informasi lebih lengkap mengenai Pengendalian Hama Terpadu?

    Buku

    • Post Harvest HandlingCalifornia University, Davis:  Post Harvest Technology Research and Information Centre.  Small-Scale Postharvest Handling Practices: Manual for Horticultural Crops lihat rincian di: www.unfao.org/inpho/ (Inggris, Perancis dan Spanyol)
    • ISHS organisation: International Society for Horticultural Science, Organisasi ilmuwan hortikultura independen terkemuka di dunia. Lihat: www.ishs.org. www.pubhort.org adalah layanan online untuk ISHS.
    • Professional Magazines, diterbitkan oleh Reed – Elsevier (Majalah teknologi Buah, Sayur, dan Florikultura)
    • Kamus Agrikultura - Agricultural terms and expressions dictionaries (green and blue) on Agricultural terms. (€ 14,50)

    Website:

  • Apa dasar dari Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu

    Pengertian: Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah sebuah pendekatan   dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan mempertimbangkan  semua aspek manajemen budidaya untuk mempertahankan serangan  hama  dan penyakit dibawah ambang   batas kerugian ekonomis.  Aspek pengelolaan  termasuk budidaya, lingkungan fisik, biologi,perilaku pengelola dan bahan kimia. Dengan PHT, efek samping dari pestisida diminimalkan dan keuntungan ekonomi dipertahankan. Program PHT menggunakan informasi yang ekstensif,  yang dikumpulkan dalam sistem penanaman dan memerlukan pengelolaan yang cermat . Untuk melaksanakan program PHT Anda harus memahami:

    • Identifikasi hama, karakter biologis dan perilaku hama 
    • Organisme yang menguntungkan
    • Teknik pemantauan
    • Penggunaan alat dan manajemen waktu yang tepat
    • Pencatatan
    • Strategi manajemen ketahanan
    • Manajemen gulma
    • Kalibrasi alat semprot

    Silahkan Hubungi Kami untuk mendapatkan contoh Perencanaan PHT.

  • Apa saja bahan alami yang dapat digunakan sebagai pengendali hama di Indonesia?

    MARIGOLD (Tagetes sp)

    MarigoldMarigold digunakan untuk mengendalikan nematoda dan thrips. Digunakan dengan cara ditanam di perbatasan tanam atau secara tumpang sari. Tanaman ini tidak disukai nematoda karena mengandung bioaktif seperti piperiton dan terrhienil yang bersifat antagonis terhadap nematoda.


    BAWANG PUTIH

    Bawang putihBawang putih merupakan salah  satu jenis tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman sayuran. Kandungan kimia bawang

    putih terdiri dari : Tanin < 1% minyak atsiri, dialilsulfida, aliin, alisin, enzim alinase, vitamin  A, B, C.  Bawang   putih  dapat berfungsi sebagai baktersida (bagian umbi), insektiisida (daun dan umbi) dan fungisida (daun dan umbi).  Bawang putih berguna untuk mengurangi serangan aphids, kumbang, dan lalat.

    MIMBA (Azadirachta indica L)

    MimbaTanaman mimba di Indonesia pada umumnya tumbuh liar dan belum banyak dimanfaatkan. Petani kurang menaruh perhatian terhadap keberadaan tanaman mimba yang tumbuh liar tersebut.

    Biji dan daun mimba mengandung empat senyawa kimia alami yang aktif sebagai pestisida, yaitu azadirakhtin, salanin, meliatriol, dan nimbin.  Dalam satu gram biji mimba mengandung 2-4 mg azadirakhtin, namun ada juga yang mencapai 9 mg. Senyawa kimia tersebut dapat berperan sebagai penghambat pertumbuhan serangga, penolak makan, dan repelen bagi serangga.

    Teknologi sederhana adalah  dengan cara menumbuk atau menggiling biji mimba menjadi serbuk, kemudian serbuk direndam dalam air selama semalam, disaring dan langsung dapat diaplikasikan.  Teknologi tinggi adalah dengan mengisolasi bahan aktif yang bersifat toksik dan diformulasi dengan menambahkan bahan-bahan lain, sehingga dapat diaplikasikan seperti insektisida pada umumnya.  (Nurindah et al.  2004).

  • Silahkan kirimkan pertanyaan tentang penggunaan pestisida

    Untuk menjawab pertanyaan terkait penggunaan pestisida, kami akan meminta Tim Pelatih untuk memberikan jawaban pada bagian ini. Klik di sini untuk meninggalkan pertanyaan Anda.