Bumi, Rumah Kita
Pada tahun ini, 22 April, merupakan peringatan ke 50 tahun Hari Bumi dengan tema Climate Action. Mengingat perhatian utama saat ini adalah krisis perubahan iklim yang merupakan salah satu ancaman terbesar bagi manusia. Menurut EPA (Environment Protection Agency) perubahan iklim adalah perubahan besar dalam suhu, curah hujan, pola angin dan efek lainnya yang terjadi selama beberapa dekade. Sedangkan menurut PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (United Nation Framework Convention on Climate Change), perubahan iklim mengacu pada perubahan yang dikaitkan secara langsung atau tidak langsung pada aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfir global.
Komposisi atmosfir global yang dimaksud adalah komposisi material atmosfir bumi berupa gas rumah kaca yang di antaranya, terdiri dari karbon dioksida, metana, nitrogen. Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfir yang berfungsi menangkap energi matahari agar tidak kembali lagi seutuhnya ke atmosfir. Gas rumah kaca berfungsi menjaga suhu bumi tetap stabil. Tetapi saat konsentrasi gas rumah kaca semakin meningkat membuat lapisan atmosfir semakin tebal. Penebalan lapisan atmosfir ini akhirnya menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfir bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau pemanasan global. Beberapa senyawa yang menyebabkan gas rumah kaca adalah Karbon dioksida (CO2), Nitro Oksida (NOx), Sulfur Oksida (Sox), Metana (CH4), Chlorofluorocarbon (CFC) dan Hydrofluorocarbon (HFC)
Aktivitas manusia berupa pembakaran bahan bakar fosil, penggundulan hutan (deforetasi) dan kegiatan industri menjadi penyebab efek rumah kaca. Termasuk kegiatan manusia sehari-hari dalam mengendarai kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi udara (CO2), sampah, penggunaan kulkas yang menghasilkan gas CFC serta kegiatan pertanian dan peternakan yang menghasilkan gas nitro oksida dan gas methan.
Adanya peningkatan suhu global yang disertai dengan perubahan cuaca dan iklim, menyebabkan banyak tempat mengalami perubahan pola curah hujan yang mengakibatkan banjir besar atau kekeringan. Dalam beberapa waktu ke depan, jika kerusakan lingkungan, penggundulan hutan pencemaran udara serta berbagai tindakan tidak ramah lingkungan lainnya meningkat, maka bumi akan semakin rusak dan berbahaya untuk ditinggali manusia.
Perubahan iklim merupakan salah satu masalah lingkungan hidup yang mengancam kelanjutan sistim penyangga kehidupan di bumi, dan sangat berpotensi menurunkan kualitas hidup manusia.
Mewabahnya Covid-19 mungkin membuat bumi rehat sejenak dari aktivitas manusia yang memicu perubahan iklim. Pandemi Covid-19 mengharuskan setiap orang untuk menjaga jarak aman, tinggal di rumah, membatasi aktivitas hingga menerapkan karantina atau penguncian wilayah (lockdown) guna meminimalkan penularan virus corona. Dengan berkurangnya aktivitas milyaran manusia di dunia menyebabkan berkurangnya lalu lintas kendaraan dan kegiatan industri (tutupnya pabrik-pabrik) mempengaruhi penurunan polusi udara di berbagai negara.
Menurut Badan Antariksa Eropa [ESA] serta beberapa peneliti independen, setelah lockdown emisi nitrogen dioksida menurun signifikan di Italia. Satelit Copernicus Sentinel-5P mendeteksi, penurunan emisi tersebut menandakan berkurangnya polusi udara, dengan perubahan paling signivikan yang teramati di bagian utara negara itu.
Di provinsi Hubei, Tiongkok, sejak diberlakukan lockdown, pabrik-pabrik ditutup dan jalan-jalan sepi, langit menjadi biru. Menurut Kementerian Ekologi dan Lingkungan Tiongkok, jumlah rata-rata “hari dengan udara berkualitas baik” meningkat 21,5% pada Februari 2020, dibandingkan Februari 2019.
Gambar satelit yang dirilis NASA menunjukkan penurunan dramatis emisi nitrogen dioksida yang dikeluarkan kendaraan, pembangkit listrik dan fasilitas industri di kota-kota besar Tiongkok antara Januari dan Februari 2020. Awan gas beracun yang terlihat menggantung di atas pusat-pusat industri hampir menghilang.
Aksi iklim (Climate Action) yang merupakan tema Hari Bumi 2020 diharapkan bukan sekadar kampanye di media sosial. Hal ini merupakan upaya untuk memulai perilaku ramah lingkungan dari diri sendiri, dan tidak hanya pada Hari Bumi tetapi setiap hari dan di mana saja. Seperti diunggah Earth Day Network di media sosial, "Earth Day is every day and anywhere you are."
Ingat, bumi adalah tempat kita tinggal sepanjang hidup.