Bahasa IndonesiaEnglish

Asbindo Facebook Asbindo Instagram Asbindo Twitter

Artikel Hijau

Apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan Green City serta bagaimana perkembangan Kota Hijau di Indonesia. Terkait dengan Green Services yang diinisiasi oleh ASBINDO, dalam pengembangan Kota Hijau terdapat banyak hal yang sebaiknya diperhatikan. ASBINDO berusaha untuk meberikan informasi dan edukasi yang berhubungan dengan Kota Hijau dan akan berbagi dengan Anda di halaman ini.

Jika Anda memiliki informasi atau artikel yang berhubungan dengan Green Services, jangan ragu untuk menghubungi kami.

Usaha Florikultura yang Berkelanjutan

PDFCetakE-mail

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Sekitar 89.326 spesies tumbuhan berspora termasuk paku-pakuan dan 19.232 spesies tumbuhan berbunga (Spermatophyta) tumbuh di kawasan ini (KPPN/Bappenas, 2016).

Posisi geografis Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua Samudra, dengan pulau-pulau besar dan kecil yang membentang dari kawasan Oriental, Wallacea, sampai Australia, menjadikan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan sekaligus endemisitas yang sangat tinggi (Widyatmoko, 2014 ; Widyatmoko, 2017a; Widyatmoko, 2017b).

Potensi kekayaan dari keberagaman sumber daya genetik (SDG) tersebut jika tidak dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik pada akhirnya tidak akan memberikan manfaat serta kesejahteraan bagi masyarakat.

Munculnya kebiasaan baru untuk berkegiatan di rumah selama masa pandemi mendorong meningkatnya kegiatan berkebun dan meningkatkan penjualan tanaman hias.

Peningkatan perdagangan tanaman hias tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga ke luar negeri (ekspor).Berdasarkan data dari Pusat Perlindungan Varetas Tanaman dan Perijinan Pertanian (Pusat PVTPP) dalam webinar “Bijak dalam Berekspor Tanaman Hias” diinformasikan bahwa pada 2020 terjadi peningkatan ekspor tanaman hias sebesar 294 % ditunjukkan dengan pengeluaran Surat Ijin Pengeluaran Benih Hortikultura (SIP) pada tahun 2020 sebanyak 8.540 SIP dibandingkan pada 2019 sebanyak 2.166 SIP.

Dalam ekspor tanaman hias perlu diperhatikan peraturan (prosedur) yang diterapkan dari Pusat PVTPP dan Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Hortikultura – Kementerian Pertanian, yang menekankan pada tertib administrasi (ada form baru dari Direktorat Perbeniham yang diberlakukan pada bulan Maret 2021), transformasi eksportir perorangan ke badan hukum dan tanaman (harus) hasil budidaya. Direktorat Perbenihan yang melakukan verifikasi terhadap jenis produk yang akan diekspor.

Adanya sosial media membuat semakin maraknya penjualan tanaman hias tropis. Penjualan tidak hanya tanaman hasil budidaya tetapi disinyalir ada yang langsung diambil dari hutan. Oleh karena itu perlu diwaspadai untuk pengambilan tanaman langsung ke hutan, keberadaan SDG nasional kita, harus tetap terlindungi dan tidak punah. Sinergi dan kolaborasi antara instansi pemerintah, peneliti, pelaku usaha dan masyarakat perlu lebih ditingkatkan dan dilakukan secara terus menerus. Edukasi mengenai pelestarian SDG dan pentingnya budidaya tanaman yang diperjualbelikan perlu terus dilakukan, agar produksi serta penjualan tanaman dapat terus berjalan (berkelanjutan).

Membangun bisnis yang menguntungkan, maju dan kontinyu merupakan tujuan yang diinginkan semua pelaku usaha florikultura. Tidak hanya aspek teknis dalam proses produksi (budidaya tanaman) yang ditentukan oleh kehandalan sumber daya manusia dan teknologi yang digunakan, aspek pemasaran, pengelolaan usaha yang efisien serta regulasi yang mendukung bidang usaha sangat menentukan suksesnya usaha florikultura yang maju, mandiri serta berdaya saing.

 

Sukulen Asal Lembang yang Mendunia

PDFCetakE-mail

Sukulen merupakan tanaman dengan daun dan batang yang memiliki jaringan untuk menyimpan air. Sukulen banyak di temukan di daerah stepa, semi-gurun dan gurun, namun sukulen mampu beradaptasi di iklim tropis seperti Indonesia. Selain dari jenis, warna dan bentuk yang beraneka ragam, Sukulen banyak diminati pencinta tanaman hias karena perawatan yang tidak begitu sulit. Pada masa pandemi ini penjualan tanaman meningkat tajam tidak terkecuali dengan sukulen. Peningkatan permintaan sukulen dalam negeri selama pandemi melonjak hingga 500% dan untuk permintaan pasar luar negeri melonjak hingga 100%. Jenis yang banyak diminati pasar dalam negeri adalah Echeveria, Ceropegia, Haworthia, Agave dan Sansevieria. Sedangkan untuk pasar luar negeri adalah jenis Echeveria mutasi dan Sansevieria. Istana Bunga Kaktus, mengawali ekspor pada tahun 2015 dengan tujuan pasar Asia terutama Korea, Thailand dan China. Seiring berjalannya waktu Istana Bunga Kaktus memperluas pasar hingga ke berbagai penjuru dunia baik negara Timur Tengah, Amerika dan Eropa. Hingga saat ini telah lebih dari 30 negara sebagai tujuan ekspornya.


Petani Lembang sangat bersyukur tanaman sukulen mutasi asal Kota Lembang sangat diminati oleh pasar luar negeri, yang hingga saat ini telah berhasil mengekspor ke Amerika, Canada, Inggris, Rusia, Australia, Korea Selatan, Filipina, Jepang dan Singapura. Sejak 2017 Istana Bunga Kaktus merangkul beberapa eksportir muda yang tergabung dalam sebuah komunitas yaitu Paguyuban Sukulen Lembang.

 
 

Tanaman Hias Hasil Kultur Jaringan

PDFCetakE-mail

Sejak dunia mengalami pandemi Covid 19 tahun 2020 lalu, permintaan terhadap tanaman hias meningkat sangat drastis baik dari pasar domestik maupun pasar ekspor. Tingginya permintaan tanaman hias mendorong kenaikan harga jual menjadi 2-3 kali lipat di pasar domestik, bahkan untuk beberapa jenis tanaman variegata memiliki harga jual yang sangat fantastis. Fenomena seperti ini tentunya menjadi berkah bagi pengusaha tanaman hias, tak terkecuali bagi PT Monfori Nusantara.

PT. Monfori Nusantara (Monfori) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang kultur jaringan tanaman yang berlokasi di Kabupaten Bogor. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1996 oleh Monsanto Co, USA dan perusahaan bioteknologi yang berbasis di Australia, Forbio Ltd. Laboratorium kultur jaringan dan nurseri Monfori sendiri mulai beroperasi sejak tahun 1997 diatas lahan seluas 2.98 ha dengan kapasitas produksi 12 juta plantlet per tahun. Di awal berdirinya, Monfori memproduksi kultur jaringan tanaman kehutanan seperti Jati, Eucalyptus dan Akasia.

Seiring berjalannya waktu, Monfori berhasil membangun citra yang kuat dan memiliki kredibilitas yang tinggi sebagai pemasok bibit kultur jaringan tanaman hias untuk pasar florikultura dunia. Negara cakupan ekspor perusahaan semakin meluas dengan jenis tanaman hias yang semakin beragam seperti Aglaonema, Cordyline, Epipremnum, Piper, Philodendron dan lainnya. Dan pada tahun 2007, Monfori menjadi perusahaan Kultur jaringan pertama dari Indonesia yang mendapatkan akreditasi fasilitas eksport bibit kultur jaringan tanpa media agar dari karantina Australia (AQIS). Australia dan Amerika merupakan pasar utama dimana 80% produksi diekspor ke negara tersebut.

 
 

Daerah Resapan Air di Kota Besar

PDFCetakE-mail

Daerah resapan air adalah bagian penting dalam penataan kota. Bagian ini merupakan hal yang tidak boleh salah dalam pembuatan dan perencanaannya. Kawasan yang sudah ditetapkan menjadi daerah resapan air, harus tetap dipertahankan jika tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat intensitas dan kuantitas air hujan menjadi limpasan (run off) dalam jumlah yang besar.

Masalah yang dihadapi sebagian kota besar di Indonesia adalah urbanisasi yang mengakibatkan kebutuhan akan lahan/tempat tidnggal meningkat. Pembangunan fisik yang tidak berdasarkan pada kelestarian lingkungan akan berakibat negatif dikemudian hari dapat berupa bencana banjir ataupun berkurangnya air tanah. Resapan air tidak terlepas dari ruang terbuka hijau di sebuah kota. Idealnya setiap kota memiliki ruang terbuka hijau seluas 30% dari luas kota yang dapat berupa telaga (waduk, danau, atau situ), green belt, taman, dan hutan kota.

Jakarta saat ini hanya memiliki ruang terbuka hijau kurang dari 9% dari total wilayah. Vegetasi yang menutupi daerah resapan air juga mempengaruhi daya serap daerah resapan air. Semakin banyak vegetasi yang menutupi daerah resapan air serta semakin tepat jenis vegetasinya akan semakin baik daerah resapan air dalam menyerap limpasan air.

Selengkapnya...

 
 

Sampah di Sekitar Kita

PDFCetakE-mail

Sampah dan pengelolaannya masih menjadi masalah klasik di kota-kota besar termasuk Jakarta. Lebih dari 5000 ton sampah diproduksi di Jakarta. Sampah memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, dan banyak hal yang dilakukan untuk mempermudah pengolahannya salah satunya adalah dengan pemisahan sampah organik dan anorganik. Akan tetapi pada pelaksanaannya hal ini belum banyak membantu.

Masih banyak pihak yang belum sadar atau mungkin belum paham membedakan sampah organik dan anorganik, sehingga di mana ada tempat sampah, meskipun sudah dilabeli tetap saja masih belum sesuai dengan keinginan.

sampah organic and anorganic kompos rumah tangga

Selain pelabelan tempat sampah, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi jumlah sampah harian, baik plastik, kertas, dan berbagai sampah lainnya. Beberapa cara berikut ini dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah:

  • Selalu membawa tas kain/reusable bag setiap hari dan menolak kantong plastik saat berbelanja.
  • Membawa botol minum/tumblr/tempat minum sendiri sehingga tidak perlu membeli air minum dalam kemasan plastik jika tidak sangat diperlukan.
  • Tidak membeli barang-barang yang tidak diperlukan.
  • Memanfaatkan sampah domestik sebagai pupuk
  • Mendaur ulang sampah, misal: kertas, plastik (untuk benda kerajinan), botol dan kaleng sebagai pot tanaman, dan lain sebagainya.

Cara termudah untuk memulai hal-hal di atas adalah dengan memulainya dari diri sendiri, kemudian mengajak lingkungan terkecil (keluarga) untuk membiasakan diri dengan hal-hal seperti di atas untuk mengurangi jumlah sampah.

 
 

Halaman 1 dari 2