Sama seperti berbagai bisnis atau usaha tani lainnya, diperlukan syarat minimal tentang aspek teknis yang harus dikuasai oleh para pelaku/pemilik industri florikultura maupun tenaga kerja yang mengelolanya. Saat ini situasinya jauh lebih mudah untuk mendapatkan pengetahuan dan referensi dari berbagai sumber berkaitan dengan issue tertentu misalnya tentang pemupukan, pengendalian hama dan penyakit maupun tindakan paska panen.
Namun di tengah kemudahan ini, harus diakui bahwa ada resiko untuk menyederhanakan masalah yang berkombinasi dengan minimnya pengetahuan dasar, dapat menjerumuskan pelaku ke dalam masalah yang lebih kompleks. Apalagi bila sampai terjadi masalah yang bersifat ‘irreversible’ sehingga terjadi kerusakan permanen di kebun. Contohnya, sekarang sering terjadi salah kelola masalah kesehatan karena pasien bersifat sok tahu akibat banyak menngakses media sosial yang umumnya bersifat populer atas dasar kesaksian dan cerita sukses, namun tanpa mendapatkan pendampingan dari tenaga medis yang berkompeten. Bila masalah kesehatan demikian mudah, tentu saja tidak perlu sekolah yang mahal dan waktu yang lama untuk menjadi tenaga medis.