Bulan lalu dalam 2 minggu pada akhir tahun, kebetulan ada undangan acara pernikahan putra/ putri teman yang dilangsungkan di Jakarta. Tempatnya cukup bagus, yang pertama di Jl Gatot Subroto dan yang kedua di Jl Rasuna Said. Sebagai petani bunga, tentu saja yang menarik untuk dilihat adalah seperti apa desain, rangkaian dan jenis bunga yang akan dipakai di ballroom tempat acara dilangsungkan. Disamping tentunya juga citarasa makanan yang disajikan oleh katering yang dipakai.
Namun demikian, cukup kaget juga mengetahui sejak dari meja penerimaan tamu bahwa ternyata banyak bunga dan tanaman artifisial yang digunakan dalam acara itu. Ada yang seluruhnya tanaman artifisial yang dipasang di gazebo menuju pelaminan, dan juga bunga artifisial yang diselipkan di beberapa rangkaian rangkaian di sepanjang stand dan meja makanan. Untuk acara sebesar itu yang digelar di tempat bagus, tidak terbayangkan beberapa tahun lalu bahwa ini akan terjadi.. Tidak hanya itu, ternyata berbagai tanaman hias di bawah panggung juga tanaman artifisial yang biasa kita temui di IKEA atau Ace hardware. Menyedihkan juga untuk tahu bahwa untuk acara seperti ini, prestise hanya diukur dari apa yang nampak bagus di foto saja, namun mengabaikan nilai estitika yang lebih tinggi yaitu kesegaran bunga dan tanaman asli yang dipakai. Sepulang dari acara itu, berkecamuk di pikiran membayangkan kira-kira dalam 10 tahun mendatang, bagaimana bunga dan tanaman segar akan digunakan di acara pernikahan yang mungkin dilaksanakan sebanyak 1-2 kali sepanjang hidup kita. Menarik juga untuk tahu bagaimana situasi ini di tempat yang lebih premium di sepanjang Jl Thamrin dan Jl Sudirman di Jakarta.
