Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap Florikultura

Cetak

Walaupun banyak menjadi topik perbincangan di berbagai kalangan, saya yakin bahwa pemahaman tiap orang akan berbeda tergantung dari tingkat literasi masing-masing orang terhadap pengertian perubahan iklim. Media sosial, berita bombastis dan liputan para aktifi lingkungan membentuk persepsi yang diterima setiap orang secara berbeda.

Namun demikian konsensus umum yang dimengerti adalah terjadinya perubahan temperatur dan pola klimat di berbagai di bumi. Faktor pendorongnya bisa berasal dari aspek natural seperti letusan gunung berapi. Namun sejak 2-3 abad terakhir kegiatan manusia menjadi tertuduh utama dengan makin intensifnya penggunaan bahan bakar fossil, kegiatan dalam produksi pertanian maupun industri lainnya.

Beberapa dasawarsa lalu, issue ini masih menjadi topik yang elitis. Namun belakangan makin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Fakta bahwa permukaan laut yang naik dan terjadinya kenaikan suhu rata-rata makin terasa di sekitar kita.

Buat kita para pelaku industri florikultura, fenomena ini membuat kita bertanya seberapa jauh in akan berpengaruh dalam kegiatan produksi. Di sektor pertanian lain, sudah banyak terjadi perubahan berupa berpindahnya area produksi karena berubahnya suhu. Produksi apel di kota Batu Malang, sudah direlokasi ke area lain yang dipersepsikan lebih dingin (walaupun fakta lain menyatakan bahwa yang paling berpengaruh adalah terjadinya persaingan penggunaan lahan dengan sektor real estate dan property).

Faktor paling penting di dalam budidaya produk florikultura adalah suhu minimum di malam hari yang menentukan kesesuaian komoditi. Roses, anggrek bulan, lilium, snapdragon, lisianthus, carnation, gerbera, calla, dan seterusnya. Suhu minimum hampir tidak bisa dimanipulasi dengan tindakan teknis yang tersedia. Dan kalaupun bisa, secara ekonomi sangat tidak bisa dijustifikasi Ini adalah pemberian alam yang bersifat granted. Pertimbangan utama apakah komoditas florikultura di atas dapat dibudidayakan di suatu area adalah suhu minimum. Komodita florikultura lain yang hampir tidak terpengaruh oleh perubahan ini adalah produk yang lebi bernuansa tropis seperti cut foliage dan berbagai produk landscape ornamental.

Faktor lingkungan yang lain seperti kelembaban udara, suhu maksimum, curah hujan dll. Termasuk faktor lingkungan yang dapat dikendalikan dengan berbagai teknik dan fasilitas budidaya.

Di Indonesia, dalam beberapa waktu mendatang, faktor perubahan iklim ini mungkin hampir tidak mempengaruhi secara nyata dalam produksi florikultura. Naiknya permukaan laut yang membua pemukiman tepi pantai tenggelam seperti yang sudah terjadi di sepanjang Pantura atau pola hujan monsoon yang menenggelamkan Bangladesh adalah pengaruh negatif yang nyata di kehidupan sehari-hari. Terlepasnya berbagai organisme patogen yang berabad-abad terlindung oleh lapisan es, mungkin dapat memicu timbulnya berbagai gelombang pandemi yang sangat merusak. Terganggunya keberadaan serangga yang membantu polinasi tanaman oleh naiknya suhu rata-rata harian, mungkin akan sangat mengganggu pola produksi pangan global.

Saya yakin bahwa bukan faktor perubahan iklim yang akan menjadi faktor yang menentukan industri florikultura. Beberapa hal berikut di bawah mungkin adalah hal negatif yang secara nyata mempengaruhi florikultura.

1. Perubahan pola penggunaan produk segar (sudah berulang kali disinyalir bahwa materi flora artifisial mulai menjadi dominan). Cukup menjadi ironi bahwa industri florikultura du ternyata tumbuh cukup solid dan meninggalkan Indonesia dalam profil statistik dunia. Lain kali akan kita bahas anomali ini dengan lebih detail dan jernih.

2. Terjadinya komodifikasi florikultura yang awalnya berasal dari produk novelty, membuat daya saingnya turun yang tercermin dari turunnya nilai tukarnya dan harga yang bersifat statis tidak mengikuti inflasi.

3. Naiknya harga berbagai komponen input produksi seperti biaya tenaga kerja, pupuk, pestisida, logistik dsb yang tidak dikompensasi oleh perubahan harga jual yang significan pada produk florikultura.

4. Setelah wabah covid usai, minat masyarakat terhadap berbagai produk florikultura turun sangat drastis.

Sepertinya produksi pertanian pangan mungkin akan jauh lebih terdampak karena berubahnya pola dan musim tanam, dan juga potensi outbreak organisme pengganggu tanaman. Industri produksi pangan akan berpengaruh lebih besar terhadap situasi politik dan sosial masyarakat dibandingkan dengan florikultura. Apalagi secara volume dan nilai produk pangan ini tidak bis dibandingkan dengan industri flori. Dalam batas tertentu, dimana magnitude dapat diabaikan ha hal yang berkaitan dengan perubahan iklim adalah maju atau mundurnya waktu panen berbagai produk yang terpengaruh oleh panjang hari seperti krisan dan poinsettia. Atau pembungaan yang terlambat untuk produk flori yang pembungaannya ditentukan oleh perubahan suhu sepert anggrek bulan. (Sumartono)


Download File
Download this file (Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap Florikultura.pdf)Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap Florikultura.pdf[ ]26 Kb289 Downloads