Agrinex ke-8 tahun 2014 telah dilaksanakan. Salah satu agenda yang menarik dalam kaitannya dengan isu pengembangan green city adalah “Focus Group Discussion: Membangun Sinergi Kota Hijau”. Kegiatan FGD ini diselenggarakan oleh Agrinex bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, dengan mengundang perwakilan kota/kabupaten peserta Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dan para pelaku usaha yang berkaitan dengan kota hijau. Karen Tambayong (Ketua Komisi Green City AIPH) menjadi moderator pada diskusi yang dinarasumberi oleh Endra Saleh (Kepala Subdit Jakstra Perkotaan, Direktorat Perkotaan), Dr. Ir. Ani Andayani (Direktur Budidaya dan Pascapanen Florikultura), dan Glenn Pardede (ketua Umum ASBINDO)

Pada kesempatan ini, Glenn Pardede memaparkan hubungan yang mungkin dibangun antara pemerintah pusat, kota/kabupaten pelaksana P2KH, pelaku usaha (swasta), dan juga asosiasi. ASBINDO sebagai satu-satunya organisasi florikultura yang bermitra baik dengan pemerintah siap untuk menjadi konsultan jika pembangunan nursery penyedia tanaman pendukung kota hijau di masing-masing kota/kabupaten dianggap penting dan perlu.
Senada dengan Glenn, Dr. Ir. Ani Andayani juga menyatakan ada beberapa kota yang menjadi irisan program P2KH Kementerian PU dan Kementerian Pertanian, dan saat ini beberapa kota sudah berjalan dengan baik, tidak hanya dari segi fisik (jumlah tanaman-red), tapi juga dari aspek lainnya. Ani juga menyatakan bahwa pihaknya sedang mencoba untuk mempertahankan taman-taman yang ada di masing-masing kota dengan mengembangkan nursery. Untuk mengembangkan nursery tentunya tidak bisa dijalankan oleh pemerintah pusat sendiri, perlu ada kerjasama yang baik antara pelaku usaha, masyarakat setempat, dan juga arahan dari pihak-pihak yang memiliki kompetensi.
Menutup pemaparan mengenai sinergi kota hijau, Endra Saleh menjelaskan perkembangan kota peserta P2KH yang terus meningkat. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan P2KH adalah tidak semua kota memiliki ahli tata landscape sehingga sebagian besar taman memiliki ciri tanaman yang sama dan belum menunjukkan kekhasan masing-masing kota. Endra juga menambahkan bahwa APBN yang terserap untuk P2KH meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran pentingnya kota hijau. Ke depan, diharapkan sinergi seperti yang disampaikan ASBINDO dapat dibangun sehingga masing-masing kota tidak kebingungan jika harus memenuhi kebutuhan taman.
Diskusi antara narasumber dan peserta juga berlangsung menarik, beberapa peserta dari kota/kabupaten mengakui belum adanya pakar yang bisa mengarahkan untuk menanam tanaman apa di tempat yang tepat. Menanggapi hal ini, ASBINDO menjawab dengan sudah memiliki program Green Service yang salah satunya adalah panduan right plant in the right place.