
Semakin banyaknya gedung perkantoran yang menggunakan pendingin ruangan, polusi asap rokok, tingginya konsentrasi karbon dioksida, dan juga radiasi gelombang elektromagnetik dari komputer dan perangkat elektronik lain menjadikan banyak terjadi sick building syndrome. Penyakit ini rata-rata dialami oleh orang-orang yang bekerja di kantor dengan gejala antara lain sakit mata, sakit kepala, susah berkonsentrasi, bersin-bersin di pagi hari, dan lain sebagainya.
Beberapa solusi untuk mengatasi hal ini juga sudah dicari, salah satunya adalah dengan meletakkan tanaman anti polutan di ruangan kantor. Tanaman ini biasanya berupa tanaman yang perawatannya mudah. Beberapa perusahaan telah mengujicobakan tanaman-tanaman anti polutan di kantornya dan inilah beberapa tanaman anti polutan tersebut:

- Sansevieria sp, tanaman berair (sukulen) ini biasa disebut lidah mertua, yang sering digunakan untuk mengurangi bau dan juga radiasi alat-alat elektronik seperti komputer, telepon genggam, printer, dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu menyerap lebih dari 107 unsur polutan berbahaya yang terdapat di udara sebab Sansevieria mengandung bahan aktif pregnane glikosid, yang berfungsi untuk mereduksi polutan menjadi asam organik, gula dan asam amino.
- Anthurium sp tanaman ini juga tumbuh dengan baik bila didekatkan dengan barang barang beradiasi tinggi, selain itu efek yang dapat langsung dirasakan adalah ruangan menjadi lebih sejuk, walaupun suhu pada pendingin ruangan 25 derajat celcius.
- Palem kuning (Chrysalidocarpus lutescens). Jenis palem ini dapat tumbuh hingga 5 m. Kemampuannya dalam menyerap racun paling tinggi dibandingkan tanaman lain. Tanaman yang berukuran kecil cocok diletakkan di dalam rumah dan yang berukuran besar bisa ditanam di pinggir jalan karena sangat efektif untuk menyerap gas beracun dari asap kendaraan maupun pabrik. Palem Kuning setinggi 1,8 m dapat menghasilkan uap air 1 liter/24 jam. Kemampuan menyerap Trikloroetilen-nya 16,520 microgram, sedangkan penyerapan Benzena 34,073 microgram, dan Formaldehida 76,707 microgram per 24 jam.
- Philodendron sp, tanaman ini efektif menghisap racun Formaldehid yang terdapat pada lem dan eternit sebanyak 8,000 microgram per 24 jam sehingga cocok di letakkan sebagai tanaman indoor.
- Aglonema sp, keluarga Araceae ini banyak mengeluarkan uap air yang menjadikan ruangan lembap. Selain itu, tanaman ini juga mengeluarkan senyawa phytochemical yang mampu menekan populasi bakteri dan spora jamur merugikan hingga 50 -60%, yang ada dalam ruangan. Eksperimen telah menunjukkan bahwa amuba atau bakteri yang diletakkan di dekat sehelai daun segar akan musnah dalam hitungan menit saja. Fungsi lain adalah mengurangi rasa sakit, membantu konsentrasi, dan menghilangkan rasa lelah.

Beberapa testimoni mengatakan bahwa karyawan di beberapa gedung tetap sehat dan semangat bekerja dan tidak terkena Sick Building Syndrome. Selain itu, dengan memperbanyak tanaman hijau anti polutan, kita dapat terhindar dari Heat Island Effect (gejala pulau yang memanas) karena semakin banyak gedung dan polusi serta berkurangnya lahan terbuka hijau.
LINGKUNGAN HIDUP ADALAH LINGKUNGAN YANG HIDUP JAGALAH KELESTARIAN HIDUPNYA.
TIPS PERAWATAN
Agar tanaman anti polutan ini dapat melakukan fungsinya dengan sempurna, perlu beberapa perhatian ekstra sebagai berikut:
- Pori-pori pada daun tanaman merupakan bagian yang bertugas menyerap zat-zat beracun. Lama kelamaan pori-pori tanaman ini dapat tertutup oleh debu. Apalagi tanaman di dalam ruang tidak terkena air hujan yang dapat meluruhkan debu-debu yang menempel. Karena itu, lap permukaan daun secara berkala dengan kapas dan air, agar pori-pori daun terbebas dari debu.
- Jangan lupa mengeluarkan tanaman ke luar ruangan agar ia mendapatkan pasokan sinar matahari yang cukup. Setidaknya, setiap 2 atau 3 hari sekali, jemur tanaman tersebut di halaman. Lebih baik lagi jika anda punya banyak tanaman berjenis sama, sehingga dapat bergantian diletakkan di dalam ruangan.
(Ditulis oleh: Lusi Saleh - PT Edelweiss Cantiqa Lestari)