Pada mulanya bunga papan dibuat dengan stereofoam berukuran 2 meter x 1 meter atau lebih ditutup dengan busa tipis / spoons. Untuk menulis huruf-huruf dibuat simpul-simpul dari kertas crepe, diikat dengan kawat , namanya suyok. Dengan berjalannya waktu, suyok dibuat juga dari spoon tipis. Sebelum menggunakan suyok , huruf huruf dibentuk dari bunga marigold warna kuning muda / tua. Kemudian dengan semakin bertambah banyaknya permintaan untuk kiriman ucapan Selamat pembukaan dan kedukaan, para pembuat bunga papan berkreasi dengan suyok kertas atau spoon.
Suyok banyak digunakan karena dapat didaur ulang. Setelah acara selesai, bunga papan akan diambil para pemulung untuk dijual kembali kepada pembuat bunga papan di pasar, yang kemudian dirangkai ulang untuk pembeli berikutnya, termasuk bunga segarnya ditata ulang. Berbeda dengan Winny Florist, Winny Florist membuat bunga papan dengan materi baru, yang mengakibatkan harga menjadi lebih tinggi dibandingkan harga penjual bunga papan di pasar.



Dengan berkembangnya teknologi digital, bunga papan dikreasikan sebagai banner yang diprint / dicetak sesuai desain, berbagai ukuran dan logo, lalu dibuat dengan bunga segar sebagai pelengkapnya. Bunga papan kekinian dibuat dengan ukuran kecil, dihias dengan bunga kering atau bunga kertas. Hal ini merupakan satu karya seni yang kreatif.
Mengapa bunga papan kekinian disain demikian? Sebab dengan disain seperti itu, kreasi tersebut bisa masuk kedalam ruangan hotel, gedung dan lain-lain , Sedangkan bunga papan berukuran 2 m x 1 m tidak diperbolehkan masuk ruangan. Apakah dengan disain-disain kekinian, tanpa bunga segar akan mengancam petani-petani penghasil bunga segar? menurut saya tidak, karena sampai saat ini para pembuat bunga papan masih sering kekurangan bunga segar. Itu juga yang menjadi penyebab pembuat bunga papan di pasar mendaur ulang dengan alasan kejar tayang bunga sulit. Dan konsumen mau bagus & murah.