Dunia Tidak Lagi Berhias
Sementara perut kosong dan dapur tak berisi, maka bunga akan terhapus dari daftar belanja kita. Inilah yang terjadi pada saat mahluk halus bernama virus korona melanda dunia. Hal ini berdampak luas dan berat bagi dunia florikultura. Pengekspor menyetop pengiriman bunganya, pengusaha nurseri besar tak berdaya memandang hamparan tanamannya, penjual rangkaian bunga kebingungan menyalurkan produknya, pedagang bunga potong memenuhi bak sampah di pasar bunga, dan petani menimbang-nimbang untuk menjadikan bahan pupuk organik dari tanaman kesayangannya itu, ataukah menjadikan pakan ternak bagi sapi, kambing dan domba tetangganya, yang kelak akan menghasilkan pupuk bagi tanamannya. Begitulah yang terjadi saat ini. Tak ada pesta, tak ada seminar, tak ada peresmian, pelantikan, bahkan acara adat dan keagamaan, yang memerlukan hiasan bunga.
Di belakang mereka petani menghitung kerugian. Kebun bunga potongnya yang diurus sesuai jadwad yang terhitung teliti, tidak berguna lagi. Berbagai bunga untuk pesta gedung, musim pernikahan, pelantikan, upacara adat dan keagamaan, bahkan bunga curah pada waktu-waktu ziarah pun kini berubah menjadi sampah. Tapi ini tak hanya menimpa Indonesia.
Puja Tanpa Bunga di India
Virus korona menghancurkan petani bunga. Mawar2 berwarna warni, krisan, lili, marigold yang biasa menghiasi upacara pernikahn dan kuil di negara dengan banyak kuil itu, kini berakhir di tangan petaninya. Dalam keadaan begini tak ada pilihan lain kecuali pemusnahan. Kebun-kebun mawar gerbera, anyelir, gysophila dalam greenhouse seluas 35 acre di Bengaluru, sebuah distrik pedesaan, mempekerjakan 250 pegawai. Kebun yang memasok seluruh negeri itu, merugi tiap hari rp 10 lakh (sekitar Rp 200 juta) akibat lockdown di sana. Petani lain, yang punya 3 acre Mawar, marigold, dahlia yang direncanakan untuk acara vestival, terpaksa berahkir sebagai pakan ternak, dan menjadi pupuk. Memang ada permintaan bunga untuk acara puja di rumah2, tapi tidak mudah menyuplainya dalam aturan lockdown dan social distancing. Kebun lili 6 acre yang siap panen juga dimusnahkan di kebun. Apa harus dikata. Bisnis ini telungkup saat hotel bintang 5 dan perusahaan penyelenggara pesta membatalkan pesanan.
Nasib Tulip Belanda
Bagi petani tulip di negeri Belanda, Jumat 13 Maret lalu adalah pertunjukan horor. Saat itu tulip tiba di pasar bunga terbesar di Aalmeer. Namun perlahan harga bergerak turun, terus tanpa kendali, hingga 0, alias tidak laku. Maka pemilik kebun keluarga, yang sudah berjalan lebih dari 100 tahun itu memutuskan untuk memusnahkan 200.000 batang tulip terbaik mereka. "Aku kabur bersepeda, tak mampu menyaksikan peritiwa itu." Kata sang direktur perkebunun itu.
Ia tak sanggup menghitung tahap-tahap jerih payah mereka yang dimulai Juli tahun sebelumnya.
Tentu ia tak sendirian. 400 juta tangkai bunga, termasuk 140 juta tulip dihancurkn di saat itu. Permintaan tulip mati saat2 kios bunga di dunia ditutup oleh virus ini di tengah2 penjualan Tulip. Biasanya, dimulai Mei adalah musim berbagai acara besar, yang merupakan panen raya bagi industri bunga di negeri kincir ini. Saat itu industri bunga bisa meraup sampai $ 7,6 milyar. Dengan rata2 penjualan $ 30 juta per hari, yang dimulai pada Maret.
Tapi tahun ini, akibat ulah korona, turis2 membatalkan kunjungan. Bahkan Keukehof, taman tulip terbesar di Belanda yang biasanya menerima 1.5 juta pengunjung tiap tahun selama 8 pekan dibuka (21 Maret hingga 10 Mei), terpaksa ditutup akibat wabah ini. Berarti $25 juta keuntungan gagal diraup.
Pesimistis? Tidak. Karena manusia dan dunia selalu membutuhkan bunga. Ini tak sekadar uang, tapi gairah.
Kenya dan Ethyopia
Jeritan lebih memilukan terdengar dari pekerja wanita Kenya dan Ethyopia. Kedua negara di Afrika Timur itu adalah pemasok mawar dan anyelir no 1 dan 2 bagi pasar Eropa. Sektor yg memasok, antara lain, negara Inggeris, Belanda, Jerman dan Italia senilai $ 1 Miliar/tahun itu menyerap ratusan tenaga kerja kedua negara itu. Kebanyakan tenaga kerjanya adalah wanita. Florikultura adalah pilar ekonomi bagi Kenya dan Ethyopia, dua exporter top dunia. Tapi ketika tak ada lagi permintaan pasar bunga potong dari luar akibat korona, berton-ton bunga berkualitas tinggi terpaksa dihancurkan dan puluhan ribu pekerja kedua negara itu mulai menjadi penganggur. Padahal, para tenaga kerja wanita itu adalah pencari nafkah keluarga. Menganggur adalah momok yang sangat menakutkan. Mereka tak akan dapat akses kesehatan, makan dan malah jatuh miskin. Memang, mereka terlihat masih optimistis; akan datang nanti permintaan ekspor dan mereka akan dipekerjakan kembali, setelah wabah ini berakhir. "Tapi, entah kapan itu. Saya tak tahu. Dan apakah keluarga saya masih selamat hingga saat itu." Kata seorang pekerja wanita sambil mengusap matanya.
Kambing dan Kembang.
Kalau kumbang mencari kembang, itu memang biasa.Tapi kambing melahap kembang?Itu biasanya dilarang.Tapi, lihat yg terjadi saat ini. Di Malang, Jawa Timur, mawar- mawar indah dan bbeberapa kembang lainnya, dilapap kambing piaraan tanpa rasa bersalah. Lain lagi yang terjadi di Bandung. Seorang pemuda mencegat seorang pria tengah baya yang sedang menghentikan mobilnya di tepi salah satu jalan raya di Bandung. Di tangan pemuda itu terlihat dua rangkaian bunga mawar. Dengan ramah pemuda itu menawarkan rangkaian bunga di tangannya. "Pak, hanya rp 20.000, Pak."Pria tengah baya itu bingung, tapi merogoh sakunya, dan memberikan beberapa lembar uang rp 10.000. Sang pemuda menyerahkan dua rangkaian bunganya sambil berterima kasih dengan senyum gembira. Di rumahnya, isteri pria itu terkejut mengetahui bunga cantik itu hanya ditawarkan seharga Rp 20.000.
Nyasar ke grup WA
Di sebuah grup WA wanita profesional tiba-tiba ada postingan foto sebuah leaflet. Pada leaflet itu terpampang foto aneka bunga potong dari Garut, lengkap dengan harga serta nama dan no telp yang dapat dihubungi. Tidak ada hajatan, tidak ada selamatan apa pun di grup itu. Tapi para anggota rame-rame menerima tawaran itu. Mereka memahami apa yang terjadi. Grup WA lain, beberapa hari lalu juga menerima "titipan postingan" dari pedagang bunga di Rawa Belong, Jakarta. Komentarnya:"Pedagang bunga ini tidak tega menolak bunga potong yang dikirim petani bunga, pelanggannya di Cianjur." Para anggota grup ini juga memahami apa yang terjadi.
Ole-ole sembako
Tapi, petani bunga di desa Cihanjuang dan Parongpong, Cimahi, tidak seberuntung itu. Mereka memandang sedih hasil panennya yang tidak dijemput pengepul. Mereka juga tak berdaya menjajakan bunganya ke kota. Namun, walau sedih, mereka bersyukur saat ada isteri-isteri pejabat datang membawakan sembako untuk mereka. Kisah dari Martapura dan Karang Intan, juga tak jauh berbeda. Petani sentra pengembangan florikultura di satu-satunya Propinsi Kalimantan Selatan, (di Desa Labuan Tabu dan Desa Bincau), juga mengalami dampak Covid-19. "Inilah pertama kalinya selama 20 tahun menjadi petani bunga, harga bunga mawar dan melati turun drastis bahkan tidak laku," kata seorang petani bunga di kecamatan Karang Intan. Kalsel. "Dengan harga jual mawar Rp 50/tangkai dan melati Rp 500/gelas kami bahkan tak bisa panen.Itu pun sukur kalu ada pembeli" katanya.