Apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan Green City serta bagaimana perkembangan Kota Hijau di Indonesia. Terkait dengan Green Services yang diinisiasi oleh ASBINDO, dalam pengembangan Kota Hijau terdapat banyak hal yang sebaiknya diperhatikan. ASBINDO berusaha untuk meberikan informasi dan edukasi yang berhubungan dengan Kota Hijau dan akan berbagi dengan Anda di halaman ini.
Jika Anda memiliki informasi atau artikel yang berhubungan dengan Green Services, jangan ragu untuk menghubungi kami.
Jika penah melihat bunga cantik aneka warna didalam piring, itu adalah Edible Flower, bunga yang bisa dimakan dengan aman. Penggunaan bunga yang bisa dimakan dalam dunia kuliner telah lama dilakukan, di Indonesia edible flower baru menjadi trend di tahun 2017, bunga biasanya dipakai untuk campuran salad, infused water, hiasan puding, cake, cookies, dll. Selain menambah nilai estetika pada sajian, edible flower juga bisa memberikan rasa tambahan yang berbeda, juga mengandung beberapa kandungan zat antioksidan, bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
Syarat bunga untuk Edible fower adalah tidak menggunakan pestisida, tanaman bisa dibudidayakan secara organik atau biasa. Beberapa pelaku bisnis Edible flower ada yang menanam sendiri, menjual bunganya, juga olahan jadi. Edible flower dijual berupa campuran beberapa macam bunga dalam satu wadah, sehinga pembeli dapat memperoleh macam macam bunga, penjualan online untuk edible flower sudah banyak.


Tanaman hias yang tidak hanya tanaman berbunga tetapi juga tanaman berdaun indah tentu memiliki masa pajang yang tidak bisa selamanya diminati konsumen. Tanaman hias seperti produk seni yang senantiasa mengikuti selera dan preferensi konsumen yang terus berganti dan berubah ubah. Konsumen yang walaupun tidak di semua bagian cenderung membudidayakan, merawat, dan mengoleksi tanaman-tanaman hias yang lebih baru dan menarik. Tanaman hias bunga dinikmati secara penuh tentu ketika tanaman tersebut telah menghasilkan bunga sampai periode layu bunga, sementara itu tanaman hias berdaun indah seperti jenis-jenis tanaman dari kelompok Araceae, Arecaceae memiliki waktu attractiveness yang lebih panjang karena setiap saat dapat dinikmati keindahan corak, variasi warna dan bentuk daun yang terus bertambah.
Masa pandemic COVID-19 telah mengangkat kembali tren tanaman hias di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Menyadarkan kita pentingnya berinteraksi dengan alam melalui penataan lingkungan tempat tinggal yang lebih hijau dan berinteraksi melalui kegiatan merawat tanaman.


Sudah berpuluh tahun, banyak yang mengajukan pertanyaan yang sama tentang bagaimana floriukultura dipengaruhi oleh terjadinya trend atau kecenderungan tertentu. Sering dibandingkan apakah dunia flori juga mengalami fenomena yang sama yang dialami oleh bidang fashion atau seni rupa, untuk menyebut satu dua contoh. Ini mungkin keduanya berasosiasi dengan keindahan visual yang umumnya bergerak dinamis sesuai dengan jamannya.
Ternyata menurut saya jawabannya sedikit tricky, tergantung dengan siapa kita berbicara. Bila kita menanyakan pada ‘mass handler’ (baik produsen maupun eksporter yang ukuran skalanya sangat masif), maka tampaknya trend bergerak secara incremental atau bahkan bersifat sedikit statis. Ini memang seperti nature dari ukuran bisnisnya. Bisa dianalogikan seperi bagaimana kapal container ship dan fighting carriers bergerak. Dibutuhkan waktu dan usaha yang sangat besar untuk berubah arah, menambah atau mengurangi kecepatan maupun manuver lainnnya. Tidak gesit untuk berubah karena ukurannya yang hypersize. Bayangkan bahwa di pasar layanan tempat makan, dengan spektrum dari yang paling mini macam warteg sampai franchise restoran Padang, dalam 5 tahun terakhir menunya ya itu-itu saja dengan fine tuning sana-sini. Namun porsi terbesar mungkin tidak berubah. Atau sejenak berangan-anganlah anda sedang mengelola 10 hektar greenhouse produksi florikultura dan anda baru bertemu seseorang yang menyarankan perubahan trend produk tahun depan. Hampir pasti anda akan berhitung 10 kali untuk mengikuti saran tersebut, karena advis tersebut memerlukan investasi baru dalam peralatan, plant material, re-training tenaga kerja dan alokasi sumber daya lainnya maupun potensi bahwa perubahan tersebut beresiko secara pemasaran.
Kemajuan bisnis florikultura di Belanda tidak dapat dilepaskan dari peran sebuah lembaga bernama Royal Flora Holland, yaitu sebuah koperasi yang menghimpun petani (grower), mereka menghubungkan petani dengan pembeli dan bekerja sama dengan semua pihak di sektor florikultura, sehingga sektor ini terus berkembang di Belanda. Berdiri tahun 1912 dan mendirikan pasar lelang yang pertama. Pada tahun 1922 produk flora dari pasar lelang tersebut mulai diekspor ke Inggris dan terus berkembang hingga sekarang.
Saat ini Royal Flora Holland mengelola pasar lelang flora terbesar di dunia berlokasi di Aalsmeer, selain di Naadlwijk dan Rijnsburg, ketiganya di Belanda. Pasar lelang Aalsmeer adalah yang utama dan terbesar, menempati lahan seluas 1,7 juta m2 atau setara 250 lapangan sepak bola. Memasarkan 44 juta bunga dan tanaman hias per hari, meliputi lebih dari 23.000 jenis bunga dan tanaman hias.


Bunga kelelawar (Tacca chantrieri Andre) termasuk dalam famili Taccaceae berbentuk herba. Species ini diberi nama bunga kelelawar karena rangkaian bunganya memiliki braktea dengan ukuran lebar dan berwarna gelap seperti sayap kelelawar. Rangkaian bunga Tacca memiliki banyak floret dan filiform; filiform merupakan struktur seperti misai yang panjang dalam jumlah banyak, sehingga di Malaysia species ini disebut dengan nama Janggut Adam.


Halaman 4 dari 9